Sabtu, 05 Juli 2014

Kurikulum 2013

Bagi rekan-rekan guru yang membutuhkan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2014-2015, Buku Pelajaran dan RPP Kurikulum 2013 Kelas 1, 2, 4 dan 5 semester satu bisa diunduh disini:

1. KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PELAJARAN 2014/2015
2RPP Kelas 1 semester 1
3. RPP Kelas 2 semester 1
4. RPP Kelas 4 semester 1
5. RPP Kelas 5 semester 1
6. Download Buku Kurikulum 2013 Untuk Kelas 1 SD

  • Buku Siswa Kelas 1: PAI dan Budi Pekerti | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: PAI dan Budi Pekerti | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 1 Diriku | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 1 Diriku | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 2 Kegemaranku | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 2 Kegemaranku | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 3 Kegiatanku | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 3 Kegiatanku | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 4 Keluargaku | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 4 Keluargaku | DOWNLOAD 
7. Download Buku Kurikulum 2013 Untuk Kelas IV SD
  • Buku Siswa Kelas IV: PAI dan Budi Pekerti | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: PAI dan Budi Pekerti | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 1 Indahnya Kebersamaan | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 1 Indahnya Kebersamaan | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 2 Selalu Berhemat Energi | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 3 Peduli Terhadap Makhluk Hidup | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 3 Peduli Terhadap Makhluk Hidup | DOWNLOAD
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 4 Berbagai Pekerjaan | DOWNLOAD
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 4 Berbagai Pekerjaan | DOWNLOAD
Sumber: http://www.sekolahdasar.net

Kamis, 02 Januari 2014

Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Perumusan Dasar Negara

Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia selama penjajahan telah
menimbulkan kesadaran bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan Bangsa
Indonesia dapat memerdekakan diri dari penjajah.

Perjuangan bangsa Indonesia dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat
untuk mengusir penjajah, baik dari kaum ulama, pelajar, dan mahasiswa. Persiapan
Kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan usaha yang gigih dan semangat tinggi.
Tokoh-tokoh penting berusaha keras dalam mempersiapkan kemerdekaan dan
merumuskan dasar negara.

Marilah kita teladani sikap dan semangat dari para tokoh pejuang kita. Kalian
sebagai generasi bangsa ikut ambil bagian dalam perjuangan bangsa untuk
membebaskan diri dari kebodohan. Tugas kalian untuk mengisi kemerdekaan
dengan sikap dan semangat rajin belajar.

A.  Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik

Perang Pasifik disebut juga Perang Asia Timur Raya. Perang ini terjadi antara
Jepang dengan Sekutu (yang termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, Britania Raya,
Filipina, Belanda, dan Selandia Baru). Dalam Perang Pasifik, Pulau Saipan jatuh ke
tangan pasukan Amerika Serikat. Keadaan ini terjadi pada bulan Juni 1944. Jatuhnya
Pulau Saipan menyebabkan posisi Jepang semakin terancam, karena di berbagai
wilayah peperangan Jepang selalu menemui kekalahan. Oleh karena itu, pada
tanggal 9 September 1944 Perdana Menteri Koiso memberi janji kemerdekaan kepada
rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati rakyat Indonesia.

B.  Masa Persiapan Kemerdekaan

Tentara Jepang pada masa Perang Pasifik semakin terdesak dan mengalami
kekalahan. Pasukan Jepang yang berada di Indonesia bersiap-siap mempertahankan
diri. Selama masa pemerintahan Jepang di Indonesia, pada tahun 1942–1945
Indonesia dibagi dalam dua wilayah kekuasaan. Dua wilayah kekuasaan tersebut
adalah sebagai berikut.

1.    Wilayah komando angkatan laut yang berpusat di Makassar, meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya.
2.     Wilayah komando angkatan darat yang berpusat di Jakarta, meliputi Jawa, Madura, Sumatra, dan Malaya. Pusat komando untuk seluruh kawasan Asia Tenggara terdapat di Dallat (Vietnam).

Setelah Sekutu berhasil menguasai Pulau Irian dan Pulau Morotai di Kepulauan
Maluku, maka tanggal 20 Oktober Jenderal Douglas Mac Arthur menyerbu
Kepulauan Leyte (Filipina), dan tanggal 25 Oktober Jenderal Douglas Mac Arthur
mendarat di Pulau Leyte.

Bulan Februari 1945 pasukan Sekutu berhasil merebut Pulau Iwo Lima di
Jepang. Sejak saat itu kekuatan tentara Jepang semakin lemah. Untuk menarik
simpati rakyat Indonesia, Jepang mengizinkan Indonesia untuk mengibarkan
bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan Indonesia
Raya boleh dikumandangkan setelah lagu Kebangsaan Jepang Kimigayo.

C.  Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Menjelang akhir PD II, Jepang mengalami banyak kekalahan. Pada tanggal 6
dan 9 Agustus 1945 kota Hirosima dan Nagasaki dibom oleh Sekutu. Pada tanggal
11 Agustus 1945, Jepang memberikan janji kemerdekaan yang disampaikan
kepada tiga orang pemimpin Indonesia, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan
Dr. Rajiman Wedyodiningrat. Ketiganya diminta mempersiapkan kemerdekaan.

Dengan janji ini Jepang berharap, rakyat Indonesia mau membantu Jepang yang
semakin terdesak dan mengalami kekalahan di mana-mana. Dalam situasi yang
semakin kritis, pada tanggal 1 Maret 1945 Jepang mengumumkan tiga tindakan
sebagai berikut.

1.    Membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai.
2.     Mempersiapkan lembaga latihan nasional (Kenkuko Gakuin) yang melatih dan mendidik pemimpin negara yang baru
3.    Memperluas pembicaraan tentang kemerdekaan Indonesia.

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diketuai
oleh Dr. Rajiman Wedyodiningrat dan didampingi dua orang wakil yaitu Icibangase
dan R.P. Soeroso. Tugas pokok BPUPKI ialah menyiapkan organisasi pemerintahan
yang akan menerima kemerdekaan dari pemerintahan Jepang. Pada tanggal 28
Mei 1945 diadakan upacara pembukaan BPUPKI di Jalan Pejambon Jakarta atau
tepatnya di Gedung Cuo Sangi In. Dalam upacara tersebut Jepang diwakili oleh
Jendral Itagaki dan Nagano. BPUPKI menggelar sidang pertama pada tanggal 29
Mei – 1 Juni 1995 yang menyepakati bentuk negara republik dengan kepala negara
dan kepala pemerintahan dijabat oleh seorang presiden. Dalam rapat ini juga
dibahas dasar negara republik Indonesia serta mengenai pembentukan sebuah
panitia yang disebut Panitia Sembilan.

Adapun anggota panitia sembilan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Ir. Soekarno (ketua)
2. Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua)
3. Mr. Ahmad Soebarjo
4. Abdul Kahar Muzakir
5. Abikusno Cokrosuyoso
6. K.H. Wahid Hasyim
7. Mohammad Yamin
8. Mr. A.A. Maramis
9. Haji Agus Salim

Sebelum janjinya terpenuhi, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah
tanpa syarat kepada Sekutu. Berita kekalahan Jepang tersebut masih dirahasiakan.
Tetapi salah seorang pemuda Indonesia yaitu Sutan Syahrir mendengar lewat siaran
radio luar negeri. Akhirnya pada tanggal 15 Agustus golongan pemuda yang terdiri
dari Wikana, Sutan Syahrir, Darwis dan lain-lain mendesak Bung Karno untuk
segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini ditolak oleh para golongan
tua dengan alasan harus dibicarakan dalam sidang PPKI.

1.    Peristiwa Rengasdengklok (Jawa Barat)

Golongan tua terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebarjo, Dr.
Rajiman dan sebagainya. Pada tanggal 16 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung
Hatta diculik oleh golongan muda dibawa ke Rengasdengklok. Tujuan mereka
adalah mengamankan tokoh bangsa dari pengaruh Jepang. Mereka meyakinkan
Soekarno bahwa jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan
Jepang, apa pun resikonya.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad
Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Kemudian Yusuf Kunto
diutus untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka
menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad
Subardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru
memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka langsung
menuju ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No. 1 (sekarang gedung
perpustakaan Nasional-Depdiknas) yang diperkirakan aman dari Jepang. Sekitar
15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan pada
16 Agustus.

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali bertemu dengan Letnan Jenderal
Moichiro Yamamoto, komandan Angkatan Darat pemerintahan militer Jepang
(Gunseikan) di Hindia Belanda dengan sepengetahuan Mayor Jenderal Otoshi
Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang. Dari
komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno
dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak
memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan. Setelah itu, mereka
bermalam di kediaman Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1).

Pada pukul 02.00 WIB malam itu diadakan rapat PPKI yang dipimpin oleh
Bung Karno bertempat di kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl. Imam
Bonjol No.1 Jakarta untuk merumuskan teks proklamasi dan membicarakan
persiapan kemerdekaan Indonesia.

2.    Perumusan Teks Proklamasi

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan
teks proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini
hari. Teks proklamasi ditulis di kediaman Soekarno, Jln. Pegangsaan Timur 56
Jakarta.

Naskah proklamasi disusun oleh tiga orang, yaitu Bung Karno, Bung Hatta,
dan Ahmad Soebarjo. Teks proklamasi terdiri dari dua kalimat, yang ditulis oleh
Bung Karno. Kalimat pertama dikutip oleh Mr. Ahmad Soebarjo dari piagam
Jakarta, kemudian Bung Hatta menyempurnakan dengan kalimat kedua.
Pada awalnya, para pemuda mengusulkan agar naskah proklamasi
menyatakan semua aparat pemerintahan harus dikuasai oleh rakyat dari pihak
yang masih menguasainya. Tetapi, mayoritas anggota PPKI tidak menyetujuinya.

Pada akhirnya, disetujuilah naskah proklamasi seperti adanya hingga sekarang.
Para pemuda juga meninginkan agar naskah proklamasi turut ditandatangani
oleh enam pemuda bersama Soekarno dan Hatta dan bukan para anggota PPKI.
Mereka beranggapan bahwa PPKI adalah wakil Jepang. Kemudian dicapailah
kesepakatan dengan menuliskan “atas nama bangsa Indonesia”.

Naskah teks proklamasi disepakati dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan
Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik.
Penandatanganan teks proklamasi dilakukan oleh dua tokoh tersebut atas usul
Sukarni. Tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Chairul Saleh,
Sukarni, Sayuti Melik, B.M Diah, Sudiro, dan tokoh-tokoh tua yang lain.

3.    Detik-Detik Proklamasi

Sesuai janji Ahmad Soebarjo, esok harinya Jumat 17 Agustus 1945 di Jalan
Pegangsaan Timur 56 Jakarta, diadakan upacara bendera dan pembacaan teks
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tepat pukul 10.00 WIB Ir. Soekarno
berpidato singkat dan membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia. Acara selanjutnya upacara pengibaran bendera sang merah putih oleh
S. Suhud dan Latief Hendraningrat yang diiringi dengan lagu Indonesia Raya.

Bendera tersebut dijahit oleh Ibu Fatmawati Soekarno.
Tokoh yang hadir di antaranya adalah Ki Hajar Dewantara, Dr. Moewardi,
A.A. Maramis, A.G. Pringgodigito dan tokoh-tokoh dari PPKI maupun para
pemuda. Pada saat itu yang hadir lebih dari seribu orang. Guna mengenang jasanya
maka Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dijuluki sebagai pahlawan proklamator
Indonesia.

D.   Menghargai Jasa Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan

Kemerdekaaan yang kita nikmati sekarang bukanlah hadiah dari pemerintah
Jepang atau pemerintah Belanda. Kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan bangsa
Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah sudah dimulai sejak penjajah menginjakkan kakinya di bumi Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan munculnya para tokoh atau pahlawan yang berjuang melawan penjajah. Namun, perjuangan itu selalu mengalami kegagalan karena tidak adanya rasa persatuan dan kesatuan. Masing-masing tokoh berjuang untuk membela dan mempertahankan daerahnya sendirisendiri.

Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta merupakan tokoh proklamator Indonesia. Keduanya berjuang dengan sungguh-sungguh agar Indonesia dapat meraih kemerdekaannya. Setelah Indonesia merdeka, Ir. Soekarno dijadikan presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya.

Untuk menghargai jasa kedua proklamator tersebut, pemerintah membangun monumen proklamasi yang bertempat di Jakarta. Wage Rudolf Soepratman dilahirkan di Purworejo
pada 9 Maret 1903. W.R. Soepratman bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar Tionghoa–Melayu bernama Sin Po. Di surat kabar itu, Soepratman mendapat
tugas menulis perkembangan kebangsaan Indonesia. Karena itu ia menjadi akrab dengan para tokoh gerakan kebangsaan di Jakarta.

Pada Kongres Pemuda I di Jakarta, Soepratman mendapat tugas untuk meliputnya. Soepratman sangat terkesan dengan keputusan tersebut sehingga ia menciptakan sebuah lagu dengan judul Indonesia Raya. Lagu tersebut diperdengarkan pertama kali dalam acara penutupan Kongres Pemuda II tanggal 20 Oktober 1928. Soepratman membawakan lagu Indonesia Raya dengan khitmat dan diiringi dengan alat musik biola.
Setelah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa.

Tetapi, Wage Rudolf Soepratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan. Beliau meninggal dunia karena penyakit paru-paru tanggal 17 Agustus 1938.

Hari kelahiran Soepratman, 9 Maret oleh Megawati saat menjadi presiden Republik Indonesia diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Hal tersebut dilakukan untuk mengenang jasa-jasa beliau kepada bangsa Indonesia.

 
Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008